MazmurSeruan di Tengah Penindasan
Shalom, Kekasih Kristus.
Mazmur 94:1-11 (TB)
1 Ya Allah pembalas, ya TUHAN, ya Allah pembalas, tampillah!
2 Bangunlah, ya Hakim bumi, balaslah kepada orang-orang congkak apa yang mereka lakukan!
3 Berapa lama lagi orang-orang fasik, ya TUHAN, berapa lama lagi orang-orang fasik beria-ria?
4 Mereka memuntahkan kata-kata yang kurang ajar dan semua orang yang melakukan kejahatan itu menyombong.
5 Umat-Mu, ya TUHAN, mereka remukkan, dan milik-Mu sendiri mereka tindas;
6 janda dan orang asing mereka sembelih, dan anak-anak yatim mereka bunuh;
7 dan mereka berkata: “TUHAN tidak melihatnya, dan Allah Yakub tidak mengindahkannya.”
8 Perhatikanlah, hai orang-orang bodoh di antara rakyat! Hai orang-orang bebal, bilakah kamu memakai akal budimu?
9 Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak mendengar? Dia yang membentuk mata, masakan tidak memandang?
10 Dia yang menghajar bangsa-bangsa, masakan tidak akan menghukum? Dia yang mengajarkan pengetahuan kepada manusia?
11 TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka.
Peringkop ini adalah bagian awal dari syair yang merupakan seruan doa dari umat Allah yang teraniaya oleh orang-orang fasik yang dengan angkuhnya menganggap TUHAN Allah Israel tidak peduli terhadap penderitaan umatNya. Ayat 11 seolah menjawab tuduhan itu sekaligus menghapus keraguan umat Allah, termasuk Anda & saya, karena ternyata TUHAN bukan hanya peduli melainkan juga menertawakan rancangan jahat orang-orang fasik karena tidak akan pernah dapat menggagalkan rencana Allah yang indah bagi umatNya, Amin
Hikmat itu, dari manakah datangnya, atau akal budi, di manakah tempatnya? Ia terlindung dari mata segala yang hidup, bahkan tersembunyi bagi burung di udara. Allah mengetahui jalan ke sana, Ia juga mengenal tempat kediamannya. Karena Ia memandang sampai ke ujung-ujung bumi, dan melihat segala sesuatu yang ada di kolong langit… tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi.“ (Ayub 28:20-21, 23-24, 28)