Amsal

Amsal 17:15-28

Sahabat Sejati di Kala Sulit

Shalom, Kekasih Kristus.

Amsal 17:15-28 (TB)

15 Membenarkan orang fasik dan mempersalahkan orang benar, kedua-duanya adalah kekejian bagi TUHAN.

16 Apakah gunanya uang di tangan orang bebal untuk membeli hikmat, sedang ia tidak berakal budi?

17 Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

18 Orang yang tidak berakal budi ialah dia yang membuat persetujuan, yang menjadi penanggung bagi sesamanya.

19 Siapa suka bertengkar, suka juga kepada pelanggaran, siapa memewahkan pintunya mencari kehancuran.

20 Orang yang serong hatinya tidak akan mendapat bahagia, orang yang memutar-mutar lidahnya akan jatuh ke dalam celaka.

21 Siapa mendapat anak yang bebal, mendapat duka, dan ayah orang bodoh tidak akan bersukacita.

22 Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.

23 Orang fasik menerima hadiah suapan dari pundi-pundi untuk membelokkan jalan hukum.

24 Pandangan orang berpengertian tertuju pada hikmat, tetapi mata orang bebal melayang sampai ke ujung bumi.

25 Anak yang bebal menyakiti hati ayahnya, dan memedihkan hati ibunya.

26 Mengenakan denda orang benar adalah salah, memukul orang mulia pun tidak patut.

27 Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin.

28 Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.

Peringkop Amsal ini menjelaskan warna kehidupan orang benar/ orang berhikmat/ seorang sahabat, dan membandingkannya dengan warna kehidupan orang bebal/ fasik/ bodoh. Orang benar memiliki kasih namun tetap waspada/ cerdik untuk tidak menjadi penanggung sesamanya sehingga menghadirkan kedamaian & kebahagiaan bagi orangtua Sebaliknya, orang bebal berhati serong dan berbuat curang, tidak berakal budi, suka bertengkar: kebodohannya membuat ia cenderung reaktif sehingga sulit mengendalikan ucapannya sehingga mendatangkan kedukaan bagi orangtuanya

Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.“ Seperti ayam hutan yang mengerami yang tidak ditelurkannya, demikianlah orang yang menggaruk kekayaan secara tidak halal, pada pertengahan usianya ia akan kehilangan semuanya, dan pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal. (Yeremia 17:9-11)

← Kembali ke Studi Perjanjian Lama