AmsalMenuai Buah yang Ditabur
Shalom, Kekasih Kristus.
Amsal 12:1-14 (TB)
1 Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu.
2 Orang baik dikenan TUHAN, tetapi si penipu dihukum-Nya.
3 Orang tidak akan tetap tegak karena kefasikan, tetapi akar orang benar tidak akan goncang.
4 Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.
5 Rancangan orang benar adalah adil, tujuan orang fasik memperdaya.
6 Perkataan orang fasik menghadang darah, tetapi mulut orang jujur menyelamatkan orang.
7 Orang fasik dijatuhkan sehingga mereka tidak ada lagi, tetapi rumah orang benar berdiri tetap.
8 Setiap orang dipuji seimbang dengan akal budinya, tetapi orang yang serong hatinya, akan dihina.
9 Lebih baik menjadi orang kecil, tetapi bekerja untuk diri sendiri, dari pada berlagak orang besar, tetapi kekurangan makan.
10 Orang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam.
11 Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia, tidak berakal budi.
12 Orang fasik mengingini jala orang jahat, tetapi akar orang benar mendatangkan hasil.
13 Orang jahat terjerat oleh pelanggaran bibirnya, tetapi orang benar dapat keluar dari kesukaran.
14 Setiap orang dikenyangkan dengan kebaikan oleh karena buah perkataan, dan orang mendapat balasan dari pada yang dikerjakan tangannya.
Ayat 14 bisa dianggap sebagai kesimpulan dari hukum “tabur-tuai” yang dibahas dalam peringkop Amsal ini, dimana setiap orang pada akhirnya akan menuai buah yang baik dari kebaikan hati, mulut dan perbuatannya, dan menanggung akibat buruk dari kejahatan yang ia tabur/ lakukan
Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. (Galatia 6:7-9)