AmsalKebaikan yang Kembali kepada Kita
Shalom, Kekasih Kristus.
Amsal 17:1-14 (TB)
1 Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan.
2 Budak yang berakal budi akan berkuasa atas anak yang membuat malu, dan akan mendapat bagian warisan bersama-sama dengan saudara-saudara anak itu.
3 Kui adalah untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas, tetapi TUHANlah yang menguji hati.
4 Orang yang berbuat jahat memperhatikan bibir jahat, seorang pendusta memberi telinga kepada lidah yang mencelakakan.
5 Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya; siapa gembira karena suatu kecelakaan tidak akan luput dari hukuman.
6 Mahkota orang-orang tua adalah anak cucu dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka.
7 Orang bebal tidak layak mengucapkan kata-kata yang bagus, apalagi orang mulia mengucapkan kata-kata dusta.
8 Hadiah suapan adalah seperti mestika di mata yang memberinya, ke mana juga ia memalingkan muka, ia beruntung.
9 Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.
10 Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal.
11 Orang durhaka hanya mencari kejahatan, tetapi terhadap dia akan disuruh utusan yang kejam.
12 Lebih baik berjumpa dengan beruang betina yang kehilangan anak, dari pada dengan orang bebal dengan kebodohannya.
13 Siapa membalas kebaikan dengan kejahatan, kejahatan tidak akan menghindar dari rumahnya.
14 Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.
Secara keseluruhan, peringkop Amsal ini mengingatkan bahwa segala kebaikan yang kita lakukan akan mendatangkan kebaikan bagi kita sendiri, baik dalam rumah-tangga (orangtua maupun anak-anak adalah mahkota dan kehormatan satu sama lain), di tempat kerja (soliditas team menghasilkan kesuksesan bersama), dan dimanapun kita berada. Karenanya, baiklah Anda & saya berusaha mengejar perdamaian dengan semua orang, mengutamakan kepentingan orang lain dan membalas kejahatan dengan kebaikan. Disisi lain, penulis Amsal juga mengungkapkan fakta bahwa orang jahat senang bergaul dengan sesama orang jahat dan mendengarkan perkataan yang jahat; oleh karenanya, jauhilah pergaulan dengan mereka karena maksud baik & perkataan baik kita akan sulit mereka terima bahkan pikiran jahat mereka dapat meracuni pikiran & hati kita
Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. (1 Korintus 15:33)
Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu, tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara. (2 Tesalonika 3:14-15)
Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. (1 Korintus 5:11)