Amsal

Amsal 27:1-13

Jangan Memegahkan Hari Esok

Shalom, Kekasih Kristus.

Amsal 27:1-13 (TB)

1 Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.

2 Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri.

3 Batu adalah berat dan pasir pun ada beratnya, tetapi lebih berat dari kedua-duanya adalah sakit hati terhadap orang bodoh.

4 Panas hati kejam dan murka melanda, tetapi siapa dapat tahan terhadap cemburu?

5 Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.

6 Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.

7 Orang yang kenyang menginjak-injak madu, tetapi bagi orang yang lapar segala yang pahit dirasakan manis.

8 Seperti burung yang lari dari sarangnya demikianlah orang yang lari dari kediamannya.

9 Minyak dan wangi-wangian menyukakan hati, tetapi penderitaan merobek jiwa.

10 Jangan kautinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Jangan datang di rumah saudaramu pada waktu engkau malang. Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh.

11 Anakku, hendaklah engkau bijak, sukakanlah hatiku, supaya aku dapat menjawab orang yang mencela aku.

12 Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.

13 Ambillah pakaian orang yang menanggung orang lain, dan tahanlah dia sebagai sandera ganti orang asing.

Nats Amsal ini menasihatkan kita untuk tidak mengandalkan keyakinan/ hikmat diri sendiri, dan sebaliknya mencari hikmat Allah, dalam menilai segala sesuatu, bersikap terhadap orang lain, dan dalam membuat rencana dan melangkah Sebaliknya, baiklah Anda & saya berusaha untuk menguasai diri dalam segala hal dan siap mengikuti rancangan Allah untuk menjadi saluran berkat Allah bagi orang lain melalui perhatian, perkataan dan perbuatan kita

Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat. Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.” Dan di tempat lain: “Tuhan mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka.” (1 Korintus 3:18-20)

← Kembali ke Studi Perjanjian Lama