Kidung Agung

Kidung Agung 2:2-7

Bunga Bakung di Antara Duri

Shalom, Kekasih Kristus.

Kidung Agung 2:2-7 (TB)

2 — Seperti bunga bakung di antara duri-duri, demikianlah manisku di antara gadis-gadis.

3 — Seperti pohon apel di antara pohon-pohon di hutan, demikianlah kekasihku di antara teruna-teruna. Di bawah naungannya aku ingin duduk, buahnya manis bagi langit-langitku.

4 Telah dibawanya aku ke rumah pesta, dan panjinya di atasku adalah cinta.

5 Kuatkanlah aku dengan penganan kismis, segarkanlah aku dengan buah apel, sebab sakit asmara aku.

6 Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku.

7 Kusumpahi kamu, puteri-puteri Yerusalem, demi kijang-kijang atau demi rusa-rusa betina di padang: jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya!

Bagi gembala kekasih hatinya (ayat 2), gadis Sulam adalah bunga indah yang dikelilingi duri/ jeruji (kebaikan/ terang/ keindahan di tengah dunia yang jahat); dan bagi sang gadis Sulam (ayat 3), gembala kekasih hatinya adalah tempat perlindungannya dalam ketidak-mengertiannya menjalani kehidupan yang penuh misteri (ayat 1-2). Pada ayat 4-6, gadis Sulam menyampaikan kecemasannya karena berada dalam cengkeraman kekuasaan sang raja atas nama cinta; dan pada ayat 7, gadis Sulam mencela para puteri Yerusalem yang berusaha memaksakan cinta akan dunia kepadanya karena ia hanya berharap pada apa yang tidak terlihat (kekasih hatinya). Sebuah contoh keteladanan kekuatan iman, pengharapan dan kasih kepada Allah!

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. (Ibrani 11:1, 24-26)

← Kembali ke Studi Perjanjian Lama