KepercayaanDapat Dipercaya
Shalom, Kekasih Kristus.
Titus 1:1-4.
1 Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita,
2 dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta,
3 dan yang pada waktu yang dikehendaki-Nya telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil yang telah dipercayakan kepadaku sesuai dengan perintah Allah, Juruselamat kita.
4 Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama: kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau.
Masih ingatkah Anda bahwa Paulus mengunjungi Kreta (tahun 58 M) dalam perjalanannya sebagai tahanan menuju kota Roma. Surat ini kemungkinan ditulis Paulus di Nikopolis (baca Titus 3:12), diantara kurun waktu selepas Paulus dari penjara rumah di Roma (62-63 M) hingga ia ditangkap kembali (66 M). Para pembelajar Alkitab menduga Paulus bertemu Titus, orang non Yahudi yang dibiarkan tidak bersunat setelah menjadi percaya, dalam perjalanan misinya yang pertama, dimana kemudian Titus dibawanya serta ke Yerusalem saat Paulus mempertanggung-jawabkan pelayanannya (bersama Barnabas) termasuk penolakannya atas penerapan sunat bagi orang-orang non Yahudi di hadapan rasul Petrus dan para pemimpin gereja disana.
Tapi mengapa Paulus merasa perlu untuk menuliskan tanggung-jawab yang diberikan Allah kepadanya sebagai rasul Yesus Kristus dalam ketiga ayat pembuka suratnya di atas? Tampaknya ini Paulus lakukan untuk mendelegasikan (meneruskan) otoritasnya kepada Titus di hadapan jemaat Kreta agar mereka mendengarkan perkataan Titus!!! Dan mengapa Paulus memilih Titus untuk melakukan tugas ini? Dengan menyebut Titus sebagai anak rohaninya (baca ayat 4 di atas) kita bisa melihat besarnya kepercayaan/ keyakinan Paulus pada Titus!!! Hmm… apakah Anda & saya juga dapat dipercaya oleh Allah dan manusia untuk hidup dalam kebenaran???
Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. (1 Korintus 4:1-4)